“Menulis
Sebagai Obat dan Jati Diri Islam serta Negara”
Sebagaimana kita ketahui di dalam diri manusia terdapat dua bagian
jiwa dan raga, Jiwa merupakan
sesuatu yang abstrak dalam diri manusia. Sedangkan raga sebaliknya, yaitu
kongkrit, jelas, dan nyata. Gerak jiwa tidak dapat kita amati dengan panca
indra. Sedangkan gerak raga sudah pasti dapat diamati. Keduanya adalah
sama-sama penting hal yang tidak dapat di pisahkan, saling melengkapi satu sama
lainnya dan menyatu menjadi suatu benuk yang hidup yang biasa disebut makhluk
hidup.
Meskipun sifat jiwa abstrak namun
tetap saja bisa di amati dan di prediksi oleh indra karna jiwa dan raga itu menyatu walaupun memang keduanya berbeda
namun tetap saja kedua bagian itu terlihat menjadi satu. ketika jiwa di dalam
diri manusia terganggu maka akan berdampak pada raga, raga akan menggambarkan
atau menampilkan apa yang sedang dirasakan oleh jiwa, seperti misalnya ketika
jiwanya terganngu atau jiwanya sakit maka raga pun akan sedikit terlihat
melamun ngawur, ngelantur dan bahkan keluar dari lingkaran kebiasaan manusia
pada umumna atau dalam kajian psikologinya disebut abnormal sedangkan dalam
sosial hal yang seperti itu disebut Anomali.
Begitupun dengan raga atau badan,
raga sangat mudah sekali di amati karna bisa di lihat bentuknya nyata kongkrit
dan jelas. Ketika raga ini sakit maka manusia akan lemah secara fisik tidak
akan kuat seperti oang-orang sehat pada umumnya dan ini akan berdampak pada
aktifitas kesehariannya. Dan seperti yang saya katakan tadi bahwa sanya
keduanya saling berhubungan dan keterkaitan maka terkadang ketika raga atau badanya sakit jiwa pun ikut sakit atau terganggu, Karena
disaat raga sakit kebanyakan orang tidak bisa meneria dan kurang bersabar
sehingga jiwa terus saja memikirkan hal itu dan pikirannya tak karuan sehingga
kadang ada juga yang sampai setres.
Kita sudah mengetahui bagaimana ketika
raga atau fisik kita yang sedang sakit maka kebiasaan kita langsung bergegas
mencari dokter atau rumah sakit terdekat untuk minta bantuan menyembuhkannya
sehingga sembuh walau butuh beberapa hari pengobatan dan itu sudah benar dan
sesuai. Namun, ketika jiwa kita yang sakit terkadang kita bingung dan dibiarkan
saja karna ini abstrak bagi orang-orang disekitarnya paling hanya sedikit
ngedumel dalam hati jika terlihat gejalanya oleh orang-orang di sekitarnya dan
bahayanya terkadang orang nya sendiri pun tidak sadar ketika jiwanya terganngu
merasa normal-normal saja. Sehingga alhasil berdampak pada gangguan yang lebih
serius atau bisa jadi gila. Hal yang seperti ini, banyak terjadi bahkan orang
setres makin banyak saja hingga sekarang.
Dalam sebuah penelitian yang
dilakukan oleh seorang psikologi yang bernama Dr. Penebaker beliau menemukan
manfaat hebatnya menulis, dalam hal ini menulis merupakan salah satu obat yang
berkaitan dengan jiwa manusia yaitu :
Pertama, menulis
menjernihkan pikiran. Jadi disaat seseorang mengalami problematika, kemudia
menuliskan semua masalahnya, ternyata
berdampak positif untuk menjernihkan pikiran , ketika jernih tentunya dia akan lebih mudah menyelesaikan
masalahnya, dan tentu saja ini membuat menulis sebagai terapi.
Kedua, menulis dapat
mengatasi trauma, ya dengan menuliskan trauma yang pernah dialami seseorang
ternyata akan mudah mengelola trauma seseorang utuk diatasi dan sementara
seseorang yang tidak menuliskan traumanya akan lebih rentan dan tidak sembuh dari trauma tersebut.
Ketiga, menulis akan
membantu mendapatkan dan mengingat informasi. Belajar dan menulis akan membuat
ingatan kita jauh lebih tajam, seperti pepatah mengatakan “ilmu
pengetahuan itu ibarat binatang buruab
dan tulisan adalah pengikatnya, maka ikatlah ilmu pengetahuan dengan
tulisa/menulis. Menulis juga dapat membuat syaraf otak lebih aktif, sehingga
membuat seseorang bisa lebih mengingat pelajaran yang dipelajari.
Keempat, ternyata
menulis juga dapat membantu mempermudah dalam menyelesaikan masalah, bagaimana
tidak ketika kita mempunyai masalah dan menuliskan masalah yang dihadapi maka
akan membuat kita lebih fokus terhadap masalah yang dihadapi daripada hanya
dipikirkan, karna memikirkan masalah, akan membuat pikiran dan otak terombang-ambing
berpikiran kemana-mana, dan justru akan membuat kita tertekan.
Kemudian islam juga menyarankan kita untuk senantiasa membudayakan
budaya Literasi seperti yang di katakan oleh imam syafi’i bahwa sanya “Iilmu itu bagaikan hasil panen di dalam karung
dan tulisan/menulis adalah ikatannya. Selain
itu Ali Ibn Abi Thalib mengatakan bahwa : Ikatlah ilmu dengan menulis.
Dari pernyataan tokoh islam tersebut
bisa kita simpulkan betapa besarnya manfaat menulis dalam keilmuan bahkan tidak
dapat terpisahkan karena menulis akan menghasilkan sebuah karya yang akan abadi
dan terus mengalir manfaatnya, walaupun penulis sudah tidak di dunia
lagi. Jika pendakwah terkenang akan gaya penyampaian dan beberapa kalimat
intinya, maka penulis lewat tulisannya akan terkenang dengan utuh gagasan pemikirannya
akan utuh tersampaikan. Islam sering kali diberikan gambaran oleh orang-orang
dan golongan yang tidak pernah mengenalnya sebagai agama yang mundur dan
memundurkan. Namun kenyataanya kita harus sadar budaya keilmuan membaca, menulis
dan berdiskusi yang kerap dilakukan dulu saat masa Emas Islam kini sudah sangat jarang pada masa sekarang. Sehingga sekarang Kiblat keilmuan berpacu pada
standar keilmuan barat. Contohnya pelajaran Filsafat dikampus Islam yang besar
ini pelajaran pertama filsafat itu mempelajarari filsafat barat yang padahal notabennya adalah
kamps islam kenapa tidak filsafat islam ? hal seperti ini sudah saya
pertanyakan pada saat saya belajar filsafat islam dengan dosen yang memang
benar-benar dari lulusan filsafat. Beliau mengatakan itu karna memang keilmuan
islam masih kalah dengan barat sehingga yang unggul di akui di dunia dan
menjadi pacuan dalam mengkaji filsafat itu dari filsafat barat. Kemudian jika di
analisis pada jaman sekarang ini budaya literasi dan diskusi dikalangan mahasiswapun sudah jarang sekali
dilakukan, terlihat ketika di dalam kelas ketika Dosen tidak masuk, mahasiswa
sekarang ternyata lebih asik bermain handpone daripada membaca buku atau
berdiskusi. Coba kita pikir dikalangan mahasiswa saja kalangan pelajar yang seharusnya menjadi
pusat keilmuan atau budaya literasi terletak disitu namun saying sekali sedikit
demi sedikit buday tersebut mulai hilang.
Padahal dalam catatan sejarah saat
masa Emas Islam tidak terlepas dari budaya keilmuan membaca, meneliti, menulis
dan berdiskusi. Namun walaupun seperti itu kita harus banyak bersukur karna banyak
tokoh Islam yang sampai saat ini terus di pelajari karyanya seperti imam
syafii, imam hanafi, imam hambali, imam maliki, ibnu khaldun, Imam ghazali,
ibnu sina, ibnu taimiyah dll. Nah bisa kita bayangkan jika tidak ada budaya
keilmuan dalam Islam, maka tidak ada kitab Islam kita tersampaikan dengan utuh,
tidak ada sejarah Islam dan pelajaran-pelajarannya”.
Masarakat
Indonesia jika dilihat pada saat ini mereka lebih tertarik menulis hal yang tidak
jelas di media-media sosial entah itu bentuk curhatan, sindiran dan kadang
tulisannya menunjukan ketidaksukaannya terhadap seseorang dan hal itu dapat memancing
kemarahan seseorang yang merasa tersindir sehingga memancing keributan dan
tidak sedikit masalah seperti itu berkepanjangan sampai dibawa ke ranah hukum.
Keterampilan
menulis jika di asah dan di pelajari secara benar itu akan membuat kita menjadi
orang yang bermanfaat Karena ketika kita suka dan pandai dalm menulis kita salurkan serta membuat karya tulis maka
kita akan menjadi orang yang lebih bermanfaat dan bernilai serta akan lebih di
hargai karena karya kita. Jadi,
dari segi manapun menulis merupakan hal yang positif dan banyak manfaatnya
terutama dalam psikologi atau kejiwaan, pun dalam hal keislaman dan keilmuan
bahkan dalam kebangsaan karna seseorang dari manapun asalnya akan di hargai
jikalau mempunyai karya apalagi jika karyanya bermanfaat dan dapat di akui oleh
bangsa dan negara.
Komentar
Posting Komentar